
Berdasarkan Global Adults Tobacco Survey (GATS) di Indonesia, ditemukan sejumlah 51,3% atau 14,6 juta orang dewasa yang terpapar asap rokok secara sekunder di tempat kerjanya, serta 78,4% atau 133,3 juta orang dewasa di rumahnya. Meskipun mereka tidak merokok, namun paparan asap rokok terus menerus bisa membuat mereka masuk dalam kelompok perokok pasif. Seringkali, para perokok abai pada sekitarnya. Hembusan asap rokok yang terhisap oleh kelompok masyarakat rentan seperti anak, remaja, bayi dan ibu hamil tentu bisa berisiko lebih jauh.
Maka, sudah saatnya bagi Anda yang merokok, untuk paham risiko yang Anda timbulkan jika merokok sembarangan. Ketika Anda merokok di tempat umum seperti rumah makan, taman, area bermain, dimana terdapat anak dan remaja, hal tersebut dapat memicu risiko kesehatan dan tumbuh kembang.
Anda mungkin merasa, “Ah, saya kan jarang-jarang merokok disana, pasti tidak ada efeknya”. Hati-hati, Anda bisa jadi satu dari sekian banyak perokok dewasa yang berpikiran hal yang sama. Jika perilaku abai ini diteruskan oleh setiap perokok dewasa, dapat dibayangkan berapa banyak sumbangan perokok pasif yang muncul dari kebiasaan Anda.
Sebagai perokok dewasa, Anda punya hak untuk membeli dan mengkonsumsi produk tembakau yang legal di pasaran. Produk ini tentunya harus digunakan pada tempat yang sebagaimana mestinya.Sebagai perokok Anda juga memilki andil untuk memperlakukan rokok sebagai produk konsumsi orang dewasa. Artinya, pemakaiannya pun harus memperhatikan sekitar, agar sedapat mungkin tidak memicu rasa penasaran anak, tidak mengganggu orang lain, dan tidak sampai membuat orang lain jadi perokok pasif, atau bahkan akhirnya menjadi perokok aktif akibat paparan yang berlebihan.
Anda mungkin bertanya, “Lantas, saya harus merokok dimana agar orang lain tidak terganggu?”. Nah, beberapa tips dari tim Cegah Perokok Anak ini bisa jadi solusi buat Anda:
1. Cari area khusus merokok
Pada sebagian titik di gedung perkantoran atau area publik di kota-kota besar, sering ditemukan Smoking Area, yang bisa Anda gunakan untuk merokok. Keberadaan Smoking Area secara visual mengisyaratkan bahwa perokok punya tempatnya sendiri untuk merokok. Saling toleransi kenyamanan publik juga bisa dilakukan dengan mencari area-area yang minim lalu lalang, misalnya area parkir kendaraan, belakang rumah atau gedung, atau balkon yang langsung menghadap udara terbuka. Hal ini setidaknya meminimalisir asap rokok terbawa ke dalam rumah atau menempel di pakaian/tubuh Anda.
2. Setelah merokok, bersihkan diri sebelum melakukan kontak fisik dengan Anak
Anggota keluarga yang merokok harus paham bahwa asap dan abu rokok bisa tertinggal di baju, celana, rambut dan tangan. Setelah merokok, ada baiknya Anda membersihkan diri, kalau perlu mengganti pakaian sebelum memegang Anak, khususnya bayi. Paparan residu rokok yang terhisap bayi sangat berisiko pada kesehatan mereka, karena sistem imun dan perkembangan tubuh yang belum optimal.
3. Punya waktu khusus untuk merokok
Disiplin waktu merokok memberi kesan bahwa Anda memperlakukan rokok sebagai produk khusus. Anak dan remaja yang melihat kebiasaan ini secara tidak langsung dapat belajar bahwa rokok bukan untuk konsumsi harian di setiap waktu. Tanggung jawab Anda untuk memberikan pola bahwa merokok adalah kegiatan orang dewasa yang dilakukan di waktu-waktu tertentu.
Ketiga hal di atas memang membutuhkan komitmen dan konsistensi. Namun, jika semua perokok dewasa punya perilaku bertanggung jawab atas konsumsi rokoknya, bukan tidak mungkin kebiasaan ini dapat membantu membangun disiplin, sehingga dapat meminimalisir dampak penggunaan rokok terhadap lingkungan sekitar. Merokok dengan etika dan perilaku bijak juga merupakan kontribusi konkrit yang dapat dilakukan oleh setiap perokok untuk berperan aktif dalam mencegah naiknya angka perokok Anak di Indonesia dimulai dari keluarga dan lingkungan terdekat Anda.
***
Referensi
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Sumber Foto
Unsplash
