
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) menyatakan bahwa terdapat 407 ribu sekolah dan 56 juta siswa di Indonesia terdampak pandemi COVID-19. Sebagian besar dari mereka tidak dapat mengakses pembelajaran dengan datang langsung ke sekolah menyusul diberlakukannya kebijakan pembatasan mobilitas masyarakat di sejumlah daerah oleh Pemerintah Indonesia. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) maupun pembelajaran semi-tatap muka (siswa belajar di sekolah beberapa hari dalam sepekan dan, sisanya, belajar di rumah) kini menjadi gaya belajar baru yang perlu diadaptasi oleh sebagian besar siswa.
Menjadi hal baru bagi siswa di Indonesia, penerapan PJJ menimbulkan tanggapan yang beragam. Dari sejumlah tanggapan yang ada, Dosen Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University Yulina Eva Riany menggarisbawahi tentang munculnya peningkatan stres di kalangan siswa selama penerapan PJJ. Adanya sejumlah faktor, seperti merasa bosan karena terus di rumah, tidak bisa bertemu dengan teman sebaya, hingga pekerjaan rumah yang semakin banyak, telah mendorong adanya peningkatan stres tersebut. Siswa yang mengalami stres ini lantas sangat mungkin mengembangkan perilaku merokok sebagai suatu cara untuk mengatasi stres yang mereka hadapi karena kurangnya perkembangan keterampilan menghadapi masalah secara kompeten dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab (Santrock, 2002).
Berkaca pada kondisi yang ada, peran orang tua untuk membantu anak menghadapi situasi sulit lantaran pandemi menjadi penting dan signifikan. Anak yang kini harus menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah saja perlu memperoleh dukungan dari orang-orang terdekatnya, khususnya orang tua, sehingga tetap dapat menjalankan aktivitas harian dengan optimal. Lebih dari itu, meskipun masih berada dalam situasi sulit karena pandemi, orang tua juga bisa memanfaatkan situasi yang ada untuk semakin menguatkan ikatan antara orang tua dan anak. Melalui ikatan yang kuat, orang tua bisa memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menumbuhkan karakter positif sekaligus mencegah anak dari perilaku yang tidak semestinya, seperti mencoba-coba merokok bahkan minuman beralkohol.
Berikut, tim penulis Cegah Perokok Anak telah merangkum sejumlah kegiatan yang dapat membantu orang tua membangun hubungan yang lebih kuat bersama anak.
Pertama, lakukan obrolan mendalam (deep talk) bersama anak. Bagi kalangan orang tua yang bekerja di luar rumah, waktu kebersamaan dengan anak sebelum pandemi bisa jadi merupakan suatu hal yang langka. Kini, sebagian orang tua bisa memiliki kesempatan yang lebih besar untuk membangun interaksi yang lebih mendalam bersama anak mengingat sebagian besar aktivitas harian masih perlu dilakukan dari rumah saja. Melalui obrolan mendalam, orang tua dapat membantu memenuhi kebutuhan anak untuk didengarkan pendapat dan pengalamannya. Pada masa sebelum pandemi, hal tersebut seringkali dipenuhi melalui peran teman sebaya di sekolah. Kini, ketika kesempatan anak untuk bertemu dengan teman sebayanya menjadi lebih terbatas, orang tua dapat memberikan dukungan kepada anak dengan cara mengisi ceruk aktivitas tersebut.
Untuk melakukan obrolan mendalam bersama anak, orang tua tentu memiliki gayanya masing-masing. Apabila Anda adalah orang tua yang masih cukup awam dengan kegiatan membangun obrolan mendalam bersama anak, Anda dapat mulai membangun obrolan dengan memperhatikan waktu dan kondisi anak. Usahakan untuk membangun obrolan di kala santai anak, seperti selepas anak menyelesaikan PR ataupun ketika menjelang tidur. Bukalah obrolan dengan sejumlah pertanyaan hangat, seperti “apa yang seru dari hari ini?”, atau sejumlah pernyataan apresiasi bagi anak sebelum menuju ke sejumlah pertanyaan mendalam yang Anda ingin gali dari anak.
Kedua, ajak anak untuk bermain bersama. Bermain adalah cara khas anak-anak untuk belajar hal baru melalui kegiatan yang menyenangkan. Mulai dari keterampilan bekerja sama, menyusun strategi, hingga berpikir kreatif dapat dilatih melalui beragam kegiatan bermain yang telah banyak dipraktikkan oleh lingkungan sekitar kita. Ajaklah anak untuk memainkan satu atau dua permainan tertentu dan jadilah saksi atas perkembangan keterampilan anak Anda.
Ketiga, makan bersama anak. Makan bersama di tempat yang sama dan waktu yang sama dapat menciptakan momen kehangatan yang mendukung keterbukaan antara orang tua dan anak. Pada momen ini, orang tua dapat menyampaikan petuah khas obrolan meja makan, seperti nasihat untuk bersyukur, menyayangi orang lain, hingga menjaga perilaku hidup sehat. Lebih dari itu, anak juga dapat menggunakan momen kebersamaan yang ada untuk turut sekadar bercerita maupun membagikan pendapat mereka tentang suatu hal tertentu.
Terakhir, berikan apresiasi kepada anak Anda. Menjalani tumbuh kembang selama pandemi telah memberikan tantangan tersendiri bagi anak. Mulai dari kondisi pembelajaran sekolah yang kurang ideal, semakin terbatasnya interaksi dengan teman sebaya, hingga perasaan jenuh karena masih harus di rumah saja. Oleh karenanya, apresiasi atas perjuangan anak menyesuaikan diri selama pandemi menjadi hal yang penting untuk diberikan. Berikanlah apresiasi kepada anak Anda, baik itu melalui pemberian pujian lewat kata-kata maupun tindakan-tindakan sederhana, seperti membelikan jajanan sehat yang disukai anak ketika berhasil menyelesaikan PR tepat waktu hingga memberikan hadiah-hadiah yang dibutuhkan anak ketika berhasil mempertahankan atau meningkatkan prestasinya di sekolah selama pandemi.
Pada akhirnya, pandemi memang menghadirkan situasi sulit bagi anak yang masih berada dalam tahap tumbuh kembang. Meskipun demikian, kreativitas orang tua untuk mengubah situasi sulit yang ada menjadi momen yang justru dapat semakin menguatkan hubungan orang tua dengan anak melalui sejumlah aktivitas yang telah dibahas sebelumnya menjadi hal berharga yang potensial untuk dilakukan. Bagi seluruh orang tua di luar sana, mari semangat untuk memberikan yang terbaik untuk anak Anda!
***
Referensi:
Kasih, Ayunda Pininta. “47 Persen Anak Indonesia Bosan di Rumah, Akademisi IPB Beri Saran,” Kompas.com, 13 November 2020.
Prasetyo, Whisnu Bagus. “Kemdikbudristek: 407.000 Sekolah dan 56 Juta Siswa Terdampak Pandemi,” Beritasatu.com, 4 Mei 2021.
Santrock. J. W. Adolescence: Perkembangan Remaja (edisi keenam). Jakarta: Erlangga (2002).
Tasner, Micheal. “Why a Parent-Child Relationship is Important,” Thepillarsclc.com.
Sumber Foto:
Pixabay
