
Sebelum pandemi melanda, setiap tahun biasanya sekolah-sekolah akan melaksanakan upacara khusus untuk merayakan dan memperingati Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober setiap tahunnya. Selain itu, beberapa sekolah juga memeriahkan hari Sumpah Pemuda dengan melaksanakan lomba-lomba yang bertema kepemudaan, serta kegiatan kerja bakti atau gotong royong.
Meskipun terhitung telah 93 tahun sejak ikrar tersebut dicetuskan, Dosen UPN “Veteran” Jawa Timur, Probo Darono Yakti, menyatakan bahwa hari Sumpah Pemuda masih relevan untuk terus dirayakan setiap tahunnya. Namun sebagai praktisi kebudayaan, Probo juga menambahkan bahwa perayaan hari-hari bersejarah Indonesia seringkali dilakukan dengan cara-cara yang kurang menarik untuk Gen Z yang sering menghabiskan waktunya di media sosial.
Survei dari merdeka.com bahkan memberikan gambaran ironi bahwa sebagian besar anak-anak menganggap perayaan hari Sumpah Pemuda tidak penting untuk dilaksanakan. Padahal Hari Sumpah Pemuda memiliki makna yang lebih luas lagi yaitu mengajarkan mereka akan tanggung jawab untuk menjaga diri mereka dari hal-hal negatif seperti merokok, pergaulan bebas, alkohol dan lainnya.
Oleh karena itu, penting untuk menyesuaikan perayaan hari-hari bersejarah dengan kebiasaan anak-anak. Tidak hanya bisa dilakukan di sekolah, tetapi juga bisa dari rumah. Berikut adalah cara-cara yang bisa dilakukan orang tua untuk merayakan hari Sumpah Pemuda ala anak-anak generasi Z:
- Serunya Cerdas Cermat Bahasa Indonesia
Seringkali kita menjumpai di sekolah-sekolah nilai ujian mata pelajaran Bahasa Inggris anak lebih tinggi daripada nilai ujian mata pelajaran Bahasa Indonesia. Oleh karena itu, pengetahuan tentang Bahasa Indonesia perlu ditingkatkan dengan terobosan baru.
Salah satunya adalah melalui permainan interaktif asyik yang bisa dilakukan oleh anak-anak dalam bentuk gim. Salah satu yang dapat dicoba adalah Kartu UKBI atau Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia, sebuah permainan berupa kartu untuk dapat mengerti kaidah Bahasa Indonesia dengan pendekatan media sosial yang diluncurkan oleh Perkumpulan Duta Bahasa DKI Jakarta.
- Mengulas Sejarah Lewat Platform Digital
Belajar sejarah seringkali menjadi kegiatan yang tidak diminati oleh anak-anak dan remaja pada umumnya karena identik dengan upacara dan buku berteks panjang yang tidak interaktif. Untuk itu, dibutuhkan pendekatan digital untuk belajar sejarah yang saat ini sudah mulai bisa diakses melalui berbagai platform. Misalnya, orangtua bisa menemani anak untuk menonton video-video edukasi di TikTok yang dikemas secara fun, serta podcast di Spotify seperti Kanal Dengar, platform yang menceritakan kisah-kisah keIndonesiaan dengan mengadaptasi kisah seru anak milenial dan Gen Z yang kemudian dipadu-padankan dengan sejarah Indonesia.
- Makeover Kamar Anak Kamar Anak Menjadi “Estetik”
Akhir-akhir ini, kegiatan yang seringkali dilakukan oleh influencer media sosial adalah kegiatan makeover, yakni mengubah bentuk atau tata letak suatu ruangan. Misalnya, kamar, ruang tamu, dapur, atau bahkan makeover isi kulkas dengan cara menata isinya dengan kontainer-kontainer cantik.
Dengan anak, orang tua bisa melakukan kegiatan ini dengan melakukan makeover kamar anak seperti influencer kesayangan mereka. Tidak perlu modal banyak, beberapa influencer juga melakukan makeover dengan anggaran terbatas. Caranya, setelah mencari tahu desain yang disukai anak, selaras dengan semangat gotong royong, orang tua dapat mendampingi anak untuk berbelanja barang-barang yang dibutuhkan secara online melalui e-commerce atau offline secara langsung.
Setelah itu, dampingi anak dan biarkan ia berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini. Sambil mendampingi anak, tanamkan nilai bahwa sebagai generasi muda mereka perlu bekerja keras dan terus mengasah kemampuan yang dimilikinya. Agar kelak dapat berkontribusi positif terhadap masyarakat, bangsa dan negara.
Selain mengajarkan anak untuk berkreasi dengan aktif, kegiatan ini juga menambah kepercayaan diri anak atas hasil dari usaha keras yang ia lakukan nantinya.
Sebagai orang tua yang berbeda generasi dengan anak, memang seringkali orang tua merasa kesulitan untuk mengerti tren yang sedang anak-anak ikuti. Oleh karenanya, tidak ada salahnya bagi orang tua untuk juga menggunakan media sosial dengan bijak sehingga mampu selaras dengan anak menciptakan ruang-ruang komunikasi yang aman dan nyaman antara orang tua dan anak. Kegiatan-kegiatan ala gen-z di atas diharapkan mampu menarik perhatian anak sehingga anak tertarik untuk melakukannya bersama-sama dengan orang tua dengan cara-cara yang mereka sukai.
Referensi:
Tirto – Isi, Makna & Sejarah Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928
Tirto – Akademisi: Penggunaan Bahasa Indonesia Siswa Masih Lemah
Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI)
Kanal Dengar
Merdeka.com – Millenials Indonesia anggap Sumpah Pemuda tak penting
Sumber Foto:
kompas.com
