
Pandemi yang melanda selama satu setengah tahun terakhir telah berdampak pada hampir seluruh aspek kehidupan. Tak luput, anak-anak juga menjadi kalangan yang terkena dampak. Pada Maret 2021 lalu, Sekretaris Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Pribudiarta Nur Sitepu mengungkap bahwa telah terjadi peningkatan signifikan kasus kekerasan terhadap anak-anak selama pandemi Covid-19. Tak main-main, ia mengungkap bahwa jumlah kasus kekerasan terhadap anak yang dilaporkan melalui Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA) selama pandemi saja telah mencapai angka 7.190 kasus. Padahal, sebelum pandemi, kasus yang terdokumentasi dalam sistem SIMFONI PPA masih berada di angka 2.851 saja.
Kondisi ini tentu perlu menjadi perhatian kita bersama. Apabila kekerasan terus terjadi pada anak, hal tersebut berpotensi besar menimbulkan luka pada inner child (sisi anak-anak) yang dapat terus terbawa dan berpengaruh hingga dewasa.
“Sisi anak-anak” merupakan bagian jiwa masa kecil seseorang yang tidak pernah tumbuh meskipun ia beranjak dewasa. Sisi ini merekam semua memori hingga emosi, baik maupun buruk, yang pernah dialami seseorang selama masa kanak-kanak. Karakter hingga respon seseorang terhadap suatu keadaan dapat dipengaruhi oleh sisi anak-anak yang dimilikinya. Apabila sisi anak-anak dalam kondisi sehat maka hal tersebut akan mendukung terbentuknya karakter positif seseorang. Begitupun sebaliknya, jika sisi anak-anak seseorang ada dalam kondisi terluka maka hal tersebut berpotensi besar menyebabkan timbulnya karakter negatif dalam dirinya.
Dampak dari adanya trauma pada sisi anak-anak mungkin tidak akan langsung terlihat saat masih anak-anak. Meskipun demikian, jika tidak ditangani dengan baik, trauma tersebut akan tetap ada hingga ia beranjak remaja. Sebagai sebuah ‘luka’ tentu trauma ini memerlukan ‘obat’ agar ia dapat sembuh atau paling tidak dapat ‘mengurangi rasa sakitnya.’ Apabila seorang anak tidak menemukan ‘obat’ tersebut di lingkungan keluarganya, maka tak menutup kemungkinan, anak-anak akan mencari pelampiasan atas trauma yang mereka rasakan di lingkungan pertemanannya. Dalam batas inilah, mereka rentan terpengaruh pergaulan negatif. Perilaku-perilaku negatif, seperti merokok dini, balapan liar, mengonsumsi minuman keras, hingga seks bebas setidaknya menjadi aktivitas pelarian diri remaja dari tekanan dan trauma yang dimilikinya.
Fenomena pelarian diri remaja ini dapat menjadi semakin mengkhawatirkan apabila remaja yang bersangkutan menjadi bergantung atau memiliki adiksi terhadap aktivitas pelarian yang dilakukannya. Lembaga penyedia jasa penanganan trauma dari Amerika Serikat, The Guest House, mengungkap bahwa seseorang yang telah menemukan kenyamanan pada aktivitas pelarian tertentu akibat trauma sisi anak-anak yang dimilikinya cenderung untuk terus melakukan hal yang sama selama bertahun-tahun. Pada kasus adiksi rokok contohnya, sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa tanpa dukungan yang berkelanjutan, hanya ada 4% upaya berhenti merokok yang dapat berhasil.
Pada akhirnya, kali ini kita kembali menyadari bahwa peran keluarga dan lingkungan sekitar sangat berpengaruh pada masa depan seorang anak. Pengaruh tersebut ternyata tidak hanya terhenti ketika seorang anak masih dalam pengasuhan orang tuanya, tetapi hingga dewasa, sisi anak-anak akan terus terbawa dan berpengaruh terhadap karakter seorang individu.
Mengutip kiat pengasuhan anak dari Ratih Ibrahim, selaku pendiri lembaga Personal Growth, konsep 5K: Kasih, Konsekuen, Konsisten, Kompak, dan Kompromi merupakan pola pengasuhan yang dapat diimplementasikan oleh orang tua guna mendukung perkembangan anak ke arah positif. Ratih mengungkap bahwa “kasih” adalah elemen paling dasar yang perlu dipahami orang tua sebagai peran yang perlu mereka jalankan terhadap anak. Dengan adanya kasih maka orang tua akan lebih dekat dengan anak sekaligus memudahkan mereka untuk membangun karakter positif dalam diri sang buah hati.
Referensi:
Davis, Shirley. “The Wounded Inner Child,” ctpsdfoundation.org, 13 Juli 2020. Diakses melalui https://cptsdfoundation.org/2020/07/13/the-wounded-inner-child/ pada 06 Oktober 2021.
___. “Kekerasan Pada Perempuan dan Anak Meningkat 5 Kali Lipat Selama Pandemi Covid-19,” jppn.com, 10 Maret 2021. Diakses melalui https://www.jpnn.com/news/kekerasan-pada-perempuan-dan-anak-meningkat-5-kali-lipat-selama-pandemi-covid-19 pada 06 Oktober 2021.
Latifa, Lela. “Apa itu Inner Child?,” parenting.co.id. Diakses melalui https://www.parenting.co.id/balita/apa-itu-inner-child- pada 06 Oktober 2021.
Shanti, Hreeloita Dharma. “KPAI: Kekerasan Pada Anak Selama Pandemi Dominan Dilakukan Ibu,” antaranews.com, 24 Juli 2021. Diakses melalui https://www.antaranews.com/berita/2286462/kpai-kekerasan-pada-anak-selama-pandemi-dominan-dilakukan-ibu pada 11 Oktober 2021.
___. “What Does Our Inner Child Has to Do with Our Addictions?,” theguesthouseocala.com, 24 Juni 2019. Diakses melalui https://www.theguesthouseocala.com/what-does-our-inner-child-have-to-do-with-our-addictions/ pada 11 Oktober 2021.
WHO. “Tobacco,” who.int, 26 Juli 2021. Diakses melalui https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/tobacco pada 11 Oktober 2021.
Sumber Foto:
Edulearningacademy
