
Upaya pemerintah Indonesia dalam mengatur prevalensi perokok anak perlu dikaji ulang. Nyatanya, masih banyak anak di bawah umur yang menyatakan pernah dan mulai merokok. Survei GYTS (Global Youth Tobacco Survey) menyebutkan, di usia 12-13 tahun, 43,3% anak mengaku sudah mulai merokok. Data ini juga didukung oleh survei ABC news yang menyatakan bahwa setidaknya hampir satu juta anak Indonesia sudah merokok sebelum mereka berumur 16 tahun. Bahkan, satu-pertiga dari jumlah tersebut mengaku sudah mulai merokok sejak usia mereka 10 tahun.
Padahal, pemerintah telah melakukan berbagai kampanye risiko rokok, mengatur soal iklan, promosi yang telah dilakukan oleh para produsen rokok. Namun, ada faktor lain yang belum banyak disoroti oleh pemerintah, yakni peningkatan peran orang tua di keluarga dan lingkungan pergaulan anak
Mengapa area ini perlu diperhatikan?
Karena, selain di area keluarga dan sekolah, faktor terbesar yang mempengaruhi anak untuk merokok adalah lingkungan pergaulannya. Terutama di kota-kota besar, eksistensi kafe-kafe modern yang apik dan instagramable menambah referensi anak untuk nongkrong – terkadang juga jadi area untuk anak merokok secara bebas tanpa pengawasan dan aturan. Selain itu, jika dikupas lebih dalam, orang tua harus mengenal betul siapa teman-teman Anak, termasuk latar belakang mereka. Hal ini penting untuk diperhatikan para orang tua, karena pertemanan dibangun oleh faktor emosional dan ketertarikan yang sama. Oleh karena itu, untuk dapat diterima di kelompok pertemanan tertentu, anak akan mencoba untuk memastikan bahwa dirinya cocok dan dianggap setara dengan kelompok tersebut.
Sayangnya, untuk bisa berada di posisi tersebut, anak remaja kerap mendapat stigma bahwa ketika usianya sudah layak untuk merokok, atau sebagai bentuk penghargaan pada teman yang lain.
Sebagai orang tua, tentu Anda ingin anak Anda terbuka, mudah bergaul, dan memiliki banyak teman. Sehingga, agar proses tersebut bisa berjalan, orang tua mesti membekali anak dengan batasan-batasan yang wajar, agar anak tidak merasa terpancing dampak negatif yang mungkin muncul di lingukungan pergaulannya.
- Ajarkan Anak bahwa pertemanan dibangun atas dasar kepedulian satu sama lain. Rasa peduli tersebut bisa diungkapkan dengan berbagai cara. Misalnya menjenguk ketika sakit, menghadiri undangan teman di acara ulang tahunnya, dan masih banyak lagi.
- Sampaikan pada anak bahwa yang “keren” bukanlah ketika menghabiskan uang yang diberikan oleh orang tua untuk merokok. Tapi “keren” adalah ketika anak mampu mengatur keuangannya dan menyisihkan uang jajannya untuk menabung dan memenuhi kebutuhan sendiri, atau bisa membantu sesama.
- Edukasi anak bahwa “keren” juga adalah ketika anak mampu menghargai ruang orang lain, dengan tidak memaksa teman untuk merokok, serta tidak mengganggu orang-orang non-perokok dengan asap rokok.
Mencegah anak untuk tidak merokok ketika teman-teman sebayanya merokok bukanlah hal yang mudah. Namun, hal itu bukan tidak mungkin untuk dilakukan. Mari optimalkan pengawasan bersama di kelompok masyarakat, dan bantu pemerintah untuk menjalankan misi menekan prevalensi perokok anak di Indonesia.
***
Referensi:
From age 2 to 7, Why are Children Smoking in Indonesia?
Teenage smoking behavior influenced by friends’ and parents’ smoking habits
Sumber Foto:
The Display
