
Menuntut orang tua untuk serta merta berhenti merokok mungkin akan sulit. Namun, orang tua masih bisa memberikan pembatasan akses rokok pada anak-anak. Caranya antara lain dengan tidak merokok di hadapan anak dan berhenti meminta anak-anak untuk membelikan rokok.
Department of health and social care di United State menyebutkan bahwa anak dengan orang tua merokok punya kemungkinan untuk menjadi perokok 4 kali lebih besar daripada anak dengan orang tua yang tidak merokok. Hal ini membuktikan bahwa peran orang tua sangatlah penting dalam program cegah perokok anak.
3 Alasan Utama Anak Menjadi Perokok
Pembatasan akses rokok akan menjadi sebuah upaya yang penting untuk terus mendukung program cegah perokok anak. Pada tahun 2019 yang lalu Global Youth Tobacco telah membuat sebuah survei untuk mengungkap 3 alasan utama yang menyebabkan anak-anak menjadi perokok. Apa saja itu?
- Adanya akses untuk membeli rokok di toko atau warung terdekat.
- Pembelian rokok batangan.
- Tidak adanya larangan untuk membeli rokok.
Survei ini membuktikan bahwa 76,6 persen responden menjadi perokok karena akses membeli rokok ke warung dan toko. Oleh karena itulah, memberikan batasan kepada anak menjadi penting. Tidak hanya berlaku bagi pihak toko saja. Namun, orang tua harus berhenti meminta anak-anak untuk membelikan rokok ke warung. Hal ini ternyata menjadi salah satu alasan mengapa anak merokok.
Sikap Orang Tua yang Tepat
Aturan ketat terhadap rokok hanya akan menjadi aturan biasa jika orang tua tidak memberikan dukungan. Orang tua juga harus bijak dan berhenti mendekatkan anak-anak dengan rokok. Kesannya memang tidak ada hubungannya. Namun, ketika Anda meminta anak untuk membelikan rokok maka Anda telah memberikan hidden education yang mengajarkan anak-anak untuk merokok.
Memang Anda hanya meminta anak untuk membelikan saja, bukan untuk merokok. Tetapi, ini sama seperti menunjukkan kepada anak-anak bahwa mereka dapat dengan mudah membeli rokok sendiri. Dengan demikian, larangan dan aturan yang ketat terhadap anak-anak menjadi tidak berarti.
Berawal dengan memegang kemasan rokok di tangan, mereka dapat menjadi terbiasa. Setelah mereka membeli rokok dan memberikannya kepada orang tua, mereka pasti akan melihat adegan lanjutan. Orang tua akan membuka kemasan rokok, membakar rokok dan menghisap rokok di hadapan mereka.
Keseluruhan sekuen ini akan mendorong anak-anak untuk mencicipi rokok. Bahkan, ada kekhawatiran bahwa merokok akan menjadi kebiasaan baru untuk anak-anak. Jadi, orang tua harus waspada. Seharusnya, orang tua tidak memberikan hidden education lewat meminta anak-anak membelikan rokok.
Bijaksanalah dalam mengambil sikap terhadap rokok. Meskipun Anda belum bisa berhenti merokok. Setidaknya, jangan melibatkan anak-anak dalam proses pembelian rokok. Dengan demikian, anak-anak tidak akan mengetahui mudahnya mengakses rokok serta tidak terekspos pada visualisasi orang tua yang merokok.
Menjadi Sosok yang Edukatif bagi Anak-anak
Usaha untuk melindungi anak-anak dari bahaya rokok bisa Anda mulai dari lingkup keluarga kecil Anda. Awalnya, Anda dapat membangun lingkungan yang edukatif dan suportif terhadap anak. Tidak hanya memberi larangan saja. Anda harus bisa berdiskusi secara terbuka dengan anak-anak. Tanyakan apa pendapat mereka tentang rokok dan jelaskan mengapa rokok berbahaya bagi kesehatan mereka.
Membangun lingkungan keluarga yang suportif dapat membantu anak-anak untuk waspada terhadap bahaya rokok sejak dini. Lebih daripada itu, Anda juga dapat membantu anak untuk berhenti merokok apabila mereka sudah terlanjur melakukannya.
Sekali lagi, ini tidak akan bisa Anda lakukan hanya dengan melarang atau memarahi saja. Pasalnya, sekadar membentak akan membuat anak menjadi dendam dan malah akan lanjut merokok. Yang bisa Anda lakukan adalah mengajaknya diskusi dengan pikiran terbuka untuk memahami alasan utama mereka merokok. Selanjutnya, Anda bisa mencari solusi praktis untuk membantu anak-anak berhenti merokok. Ini tidak akan sulit jika anak-anak sudah memberi kepercayaan penuh kepada Anda. Oleh karena itulah meraih kepercayaan anak akan menjadi sangat penting untuk edukasi yang berkelanjutan.
Langkah Praktis yang Bisa Anda Lakukan Sebagai Orang Tua
Tidak hanya berhenti meminta mereka untuk membeli rokok, Anda juga bisa melakukan lebih daripada itu. Anda bisa menjadi sosok yang edukatif bagi anak dalam hal merokok. Caranya mudah:
1. Jadilah Sumber Inspirasi Yang Positif
Usahakan untuk tidak merokok di hadapan anak-anak. Pastikan Anda mengambil waktu atau menggunakan ruangan yang bebas dari anak-anak saat hendak merokok. Ini penting karena visualisasi orang tua merokok bisa membuat anak-anak percaya bahwa merokok adalah kebiasaan yang baik.
Di sisi lain, jika Anda merokok di hadapan anak, maka anak akan menjadi perokok pasif. Seperti yang sudah kita ketahui, perokok pasif juga mendapatkan dampak negatif dari asap rokok. Tentu saja, Anda tidak ingin anak-anak Anda harus menghadapi risiko kesehatan ini, bukan? Oleh karena itulah, buat ruangan tersendiri untuk merokok dan amankan ruangan ini dari akses anak-anak.
2. Jadi Sosok Edukatif
Edukatif bukan berarti Anda hanya memberi larangan saja. Larangan atau aturan akan lebih mudah ditaati oleh anak-anak ketika dibuat berdasarkan kesepakatan. Untuk mencapai kesepakatan bersama, Anda perlu menerapkan langkah-langkah ini:
- Pertama, ajak anak berdiskusi tentang rokok atau tentang kesehatan secara umum.
- Dengarkan pendapat mereka dengan baik.
- Berikan respon yang suportif. Jangan hanya membantah atau mematahkan argumen mereka.
- Jelaskan kepada mereka bahaya rokok dan dampaknya bagi kesehatan.
- Buatlah kesepakatan tentang larangan merokok.
- Awasi pelaksanaan kesepakatan dan biarkan anak merasa nyaman untuk mengaku pada Anda ketika terjadi kesalahan.
Sosok yang edukatif seperti ini dapat menjadi panutan bagi anak-anak. Tidak hanya memberi larangan, Anda juga harus memberikan ruang bagi mereka untuk berpendapat dan membuat kesepakatan. Dengan praktik yang tepat, Anda akan menjadi teladan anak-anak dan membantu cegah perokok anak.
Orang tua merupakan sosok panutan pertama anak yang menjadikan setiap perintah orang tua akan mudah dituruti oleh mereka. Oleh karena itu, orang tua harus menentukan sikap agar menjadi teladan yang baik bagi anak dengan tidak memberikan perintah yang mengarah pada hal-hal yang belum boleh di umurnya, seperti membeli rokok. Karena dari kebiasaan tersebut, anak akan memandang setiap hal tersebut adalah hal yang wajar bagi mereka. Selain orang tua di rumah, orang dewasa lain ikut berperan dalam membangkitkan rasa tanggung jawab sosial di lingkungan masyarakat seperti sekolah dan lingkungan sekitar. Dengan semua elemen masyarakat yang bergerak memberikan edukasi pencegahan anak merokok dapat membantu mempercepat target pemerintah dalam menekan angka perokok anak di Indonesia.
Pemerintah sudah mengeluarkan larangan untuk memperjualbelikan rokok kepada anak dibawah 18 tahun. Selain itu regulasi yang berlaku di Indonesia juga mewajibkan rokok dijual dalam bentuk kemasan utuh. Mari menjadi tauladan baik untuk anak- anak kita dan dukung implementasi peraturan larangan menjualbelikan rokok kepada anak.
