
Dalam bergaul sehari-hari anak-anak Zaman Now banyak disisipi istilah ‘slang’ atau bahasa gaul. Kondisi ini sebagau tantangan bagi orang tua jika tidak mengikuti tren pergaulan mereka yang terus berubah dan bisa merasa kesulitan dalam memahami cara mereka dalam berkomunikasi. Tak jarang istilah kekinian ini menjadi ‘kode rahasia’ yang hanya dimengerti oleh anak dengan teman-teman sebayanya yang bisa mengandung banyak arti seperti salah satunya ajakan untuk merokok dalam tongkrongan.
Saat ini persentase anak Indonesia berusia 10-18 tahun yang merokok sudah terus menurun dalam kurun 2018-2022, namun merokok mesih dianggap menjadi gaya hidup dalam lingkungan pertemanan di kalangan remaja. Alasan pertemanan menjadi pendorong seorang anak mulai merokok karena mereka sangat membutuhkan penerimaan atau pengakuan dari lingkungannya. Tim Cegah Perokok Anak coba merangkum 14 istilah kekinian yang bisa menjadi pembenaran sikap anak-anak dalam kegiatan yang tidak baik seperti merokok di usia mereka saat ini. Dalam hal ini, pemahaman orang tua sangat diperlukan sekali khususnya untuk mengawasi dan mengedukasi anak-anak agar memiliki proses berpikir yang benar.
1. Open Minded
Open minded sendiri sering disalah artikan menjadi mereka yang menerima bahkan mendukung gerakan-gerakan kebebasan dan menentang aturan lama. Generasi muda saat ini mulai mengklaim diri mereka open minded saat menerima perubahan-perubahan yang arahnya melanggar norma dan batasan sosial. Mereka juga cenderung menerima ide-ide baru dan kebiasaan yang berbeda dengan masyarakat kebanyakan. Salah satunya merokok yang dianggap gaya hidup modern dan keren.
2. FOMO
FOMO berarti perasaan ketakutan jika merasa “tertinggal” karena tidak mengikuti trend tertentu sehingga dianggap tidak update. Di era kebebasan saat ini, rokok dianggap gaya hidup modern dan keren. Misalkan saja ketika anak sedang berada di tongkrongan, dia akan mulai merasa tertinggal jika teman-teman lainnya merokok. Maka dari itu, kaum remaja mulai mencoba merokok agar tidak ketinggalan zaman, tidak disingkirkan dalam komunitas dan lingkungan pertemanan, dan mendapat pengakuan dari lingkungannya.
3. Healing
Healing muncul Ketika anak-anak merasa bosan, jenuh, atau penat terhadap rutinitas yang menguras energi maupun emosional mereka. Orang tua perlu sekali mengerti akan kebutuhan healing dari anak-anak mereka. Arahkan kegiatan healing ini ke hal-hal yang positif. Jangan sampai momen healing anak digunakan olehnya untuk mencoba hal-hal baru yang dapat memberikan dampak negatif bagi perkembangannya, salah satunya merokok. Karena tidak sedikit beredar anggapan bahwa rokok adalah healing terbaik, salah satunya seperti pada platform Tiktok dimana video pendek yang berkaitan dengan rokok adalah healing terbaik mencapai 742.5K tayangan.
4. Sebat
Akronim dari kata Sebatang yang merujuk pada sebatang rokok. Kata gaul ini digunakan saat ingin beristirahat sejenak dari aktivitas pekerjaan apapun, dengan menghabiskan sebatang rokok. Jika pernah menemukan anak-anak anda mengucapkan istilah ini, maka ini menjadi Warning yang perlu anda perhatikan karena bisa diasumsikan mereka sudah mengenal atau berada di lingkungan yang merokok. Orang tua perlu mengenali istilah-istilah ini untuk tetap mengawasi bagaimana cara anak berinteraksi dengan teman sebayanya. Terkadang, anak menyebutkan istilah-istilah kekinian untuk menghindari dari kontrol orang tua dalam melakukan suatu hal yang berpotensi menyebabkan orang tua marah.
5. Kepo
Istilah ini cukup familiar untuk semua generasi saat ini. Kekepoan seorang anak perlu sekali diperhatikan dengan ketat oleh orang tua. Karena biasanya anak -anak sangat mudah kepo dengan hal-hal baru atau yang tidak diperbolehkan di usianya seperti merokok. Sebagian remaja yang merokok berawal dari rasa kepo tentang rokok itu sendiri atau saat melihat lingkunga sekitarnya mengkonsumsi rokok. Dalam kasus ini, peran orang tua untuk membangun karakter yang kuat dan cara berpikir yang kritis kepada anak sangat dibutuhkan agar mereka bisa membentengi diri dari rasa kepo mereka yang justru akan membawa dampak negatif.
6. Social Butterfly
Orang tua perlu waspada jika anak anda memiliki sikap ini. Sikap ini menjadikan anak anda sangat mudah beradaptasi di lingkungan mana saja dan cepat mendapat teman baru. Hal yang perlu menjadi perhatian, social butterfly memiliki tantangan tersendiri. seperti dalam mengambil keputusan karena cenderung bersikap sangat spontan dan mudah terpegaruh dengan lingkungan pertemananya. Kondisi ini perlu diwaspadai jika lingkungannya mengarah ke hal yang negative seperti salah satunya merokok. Oleh karena itu, orang tua juga perlu memberi pengawasan bahwa tidak setiap hal harus anak coba agar mendapat pengakuan dari lingkungannya. Anak harus diajarkan mana yang baik dan buruk bagi perkembangannya agar tidak mudah terjerumus dengan hal-hal di luar usianya.
7. TBL
Singkatan dari “Takut Banget Loh”. Lantas kondisi apa saja yang pantas menggunakan TBL? Jika dalam lingkungan pertemanan anak, maka seringkali anak mendapatkan tekanan dari teman atau lingkungan sosialnya untuk memaksa mengadaptasi gaya hidup atau tren saat ini. Termasuk saat dipengaruhi lingkungan pergaulannya untuk merokok sehingga orang tua perlu membentengi mereka untuk memiliki prinsip dan berpikir kritis terhadap apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di usianya. Salah satunya orang tua bisa mengajarkan bagaimana menolak ajakan temannya untuk merokok dan diskusi secara intens tentang risiko merokok di usianya.
8. Support system
Istilah Support system akan dihubungkan dengan prilaku yang positif. Namun yang menjadi bahaya adalah Ketika anak anda memiliki support system yang kuat dari teman pergaulannya. Penting untuk menjadi perhatian orang tua adalah jika support system dari lingkungan pertemanan yang negative seperti mereka berada di pergaulan yang sudah terbiasa merokok. Jika anak memiliki support system di luar keluarganya, orang tua perlu memastikan lingkungan tersebut adalah positif dan menjadi sebuah keharusan untuk orang tua mengetahui secara detail latar belakang dan kegiatan anak-anak bersama teman – temannya.
9. Tingwe
Tren melinting rokok sendiri atau kerap disebut tingwe kembali ngetren di kalangan anak muda. Ini merujuk pada kegiatan melinting secara manual tembakau rajang kering untuk dijadikan rokok. Dulu, cara tersebut dilakukan masyarakat perdesaan, khususnya orang tua, yang enggan atau nggak bisa menikmati rokok pabrikan. Namun, tren itu agaknya mulai berubah ke arah anak-anak karena selain faktor ikut-ikutan tapi yang paling memengaruhi adalah pertimbangan harga atau lebih “ngirit”. Kalau dihitung-hitung, perbedaan harga rokok pabrik dengan tembakau kiloan memang cukup signifikan.
Selain itu, perkembangan teknologi rupanya juga membuat kemampuan melinting nggak lagi dianggap sebagai keahlian layaknya seorang barista yang membuat kopi. Alat melinting rokok portabel banyak dijual di marketplace. Harganya murah, takaran bisa disesuaikan, hasilnya rapi dengan terkesan lebih edgy. Namun hal ini justru akan menjadi pilihan bagi anak di bawah umur untuk mencoba rokok yang dilarang di usianya. Karena rokok yang beredar saat ini memiliki aturan tidak boleh diperjual belikan kepada anak di bawah umur. Bagi mereka tingwe merupakan solusi dari aturan ini.
10. Me Time
Me time atau menghabiskan quality time bersama diri sendiri terbukti dapat memberikan banyak manfaat bagi kesehatan mental dan tubuh. Umumnya, cara terbaik untuk menghabiskan waktu tersebut adalah dengan melakukan hobi atau sekadar melepaskan diri dari media sosial. Namun sebagai orang tua tetap perlu mengarahkan pilihan me time yang baik untuk anak untuk menghindari anak mencoba hal-hal baru yang belum sesuai diusianya. Karena banyak sekali contoh buruk di lingkungan luar yang menggunakan rokok sebagai “teman” di waktu me timenya. Orang tua dapat mengarahkan anak melakukan kegiatan-kegiatan sederhana yang positif seperti berolahraga, bermain game, menonton film, dan hobi anak lainnya
11. Personal Space
Tidak sedikit karena alas an Personal space, anak-anak membuat batasan nyaman atau tidak nyaman terhadap apa yang terkait dengan dirinya dari orang lain termasuk orang tua. Sayangnya karena dalih ’waktu tidak boleh menggangu anak”, personal space ini juga dapat menjadi titik lengah orang tua untuk tetap mengawasi anak dalam setiap aktivitasnya. Jika hal ini terlalu dibiarkan, anak akan semakin menganggap semua hal adalah privasinya yang mana orang tua tidak boleh ikut campur. Seperti bagiamana anak berinteraksi dengan teman, kegiatannya, hingga pilihan-pilihan hidupnya seperti merokok. Oleh karena itu, orang tua perlu untuk tetap mengontrol anak dari jauh tanpa harus megganggu setiap privasi anak agar memastikan anak tetap berkembang positif
12. Nongki/Kongkow
Nongki adalah plesetan dari kata nongkrong. Dibandingkan “nongkrong”, kata “nongki” memiliki kesan yang lebih santai dan gaul. Sekilas tidak ada hubungannya dengan rokok, namun karena alas an Nongki/Kongkow ini anak anda bisa saja terpengaruh aktivitas merokok dari teman sekitarnya. Jangan batasi anak anda untuk Nongki/Kongkow bersama teman-temannya namun pantau secara ketat dan orang tua perlu tahu dengan siapa dan dimana anak anda melakukan aktivitas ini. Jika memang mereka ada di lingkungan yang merokok, bekali anak anda dengan pengetahuan yang kuat tentang risiko merokok sehingga mereka bisa menilai mana yang baik dan buruk baginya saat berkumpul dengan teman-temannya.
13. Strict Parent
Istilah strict parents merujuk pada orang tua yang menerapkan gaya pengasuhan otoriter, ditandai dengan penegakan aturan yang ketat, kontrol tingkat tinggi, dan penekanan pada kepatuhan. Tidak sepenuhnya salah namun car aini malah dapat mengurangi motivasi anak dan menyebabkan penerimaan tanggung jawab yang buruk. Alhasil anak akan terlihat patuh di dalam rumah, namun ketika berada di luar, ia akan merasa bebas dan berpotensi mencoba segala hal yang dilarang di rumah seperti merokok di usianya. Jangan menjadi orang tua yg justru membawa tekanan kepada mereka dan hendaknya dapat menciptakan komunikasi yang baik antara anak dengan orang tua dalam memberikan pelajaran bagi anak
14. Glow Up
Glow up adalah transformasi mental, fisik, dan emosional menjadi lebih baik. Kondisi ini pada dasarnya adalah hal positif bagi anak-anak anda, namun orang tua juga harus berperan dalam setiap perkembangan mereka termasuk saat ingin tampil lebih baik di lingkungan sosialnya. Jangan sampe Glow Up yang mereka lakukan salah dan hanya ingin tampil lebih baik agar bisa lebih diakui dan dianggap keren oleh pergaulannya. Misalnya bagi seorang anak cowo merokok bukan satu cara untuk terlihat maskulin dan maco di kalangan temannya.
Ada banyak cara yang orang tua bisa arahkan untuk bisa glow up seperti mulai berolahraga secara rutin, makan makanan yang sehat dan bergizi, menciptakan habit atau hobi baru yang lebih positif, dan mengembangkan pemikiran yang lebih luas dan positif. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kini penampilan seringkali menjadi poin utama dalam segala hal. Namun ada hal penting lainnya yang perlu diperhatikan, yaitu kepribadian diri. Karena glow up yang sebenarnya itu dimulai dari dalam diri.
Anak Anda mungkin belum mengerti seberapa penting bahaya rokok di usia dini bagi kesehatannya. Namun, Anda bisa memberikan penjelasan dengan membuka ruang-ruang diskusi sehat dengan anak. Hindarilah memberikan larangan tanpa penjelasan. Namun, berpikirlah terbuka dan raih kepercayaan dari anak-anak Anda.
Selain itu, perlu juga menciptakan lingkungan anak yang suportif. Misalkan dengan lingkungan pertemanan anak yang mendukung perkembangan anak ke arah positif, hingga peran seorang pendidik di lingkungan sekolah yang selalu membuat ruang berpikir anak terbuka. Para orang tua juga bisa konsisten menciptakan diskusi seputar risiko merokok di usianya mereka saat ini dan sekolah perlu mengambil langkah tegas sebagai upaya menjalankan pengawasan. Karena pada dasarnya, kampanye cegah perokok anak ini didasari pada kepercayaan yang merupakan tanggung jawab dari seluruh elemen masyarakat.
