
Peran ayah dalam menentukan pola asuh terhadap anak ternyata sangatlah vital. Wajar saja namanya seorang anak sudah sepantasnya mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya dan tidak boleh ada yang absen baik ibu maupun sang ayah. Pembahasan ini merujuk kepada fenomena fatherless generation yang terjadi di Indonesia, dimana secara rangking menempati urutan ketiga secara global.
Lantas apa dampaknya bagi pola asuh sang anak?
Besar kemungkinan anak yang tumbuh tanpa perhatian penuh sang ayah bakal cenderung lebih tidak bahagia dan jauh daripada itu, anak fatherless generation lebih berpeluang buat ngelakuin kenakalan remaja. Sebut saja sang anak terperosok ke dalam pergaulan yang belum semestinya di usia mereka seperti pergaulan bebas, konsumsi alkohol, atau yang teringan seperti merokok karena kekosongan pola asuh dari seorang ayah.
Sejalan dengan apa yang dijelaskan oleh Psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Diana Setiyawati, fatherless menjadi fenomena yang sudah diraskan bersama dimana peran ayah bisa dikatakan minim. Ketiadaan peran atau kurang terlibatnya ayah dalam keluarga dapat memunculkan hambatan dalam proses perkembangan anak. Selain itu, kurangnya keterlibatan ayah dapat menjadi faktor risiko munculnya psikopatologi pada anak. Salah satunya kecanduan terhadap zat ataupun aktivitas yang menimbulkan kesenangan seperti kecanduan gadget, game online, rokok dan lainnya.
Ambil satu contoh saja dalam aktivitas merokok misalnya, ayah dapat berperan sebagai orang pertama yang membantu mereka memahami risiko merokok di usianya terhadap kesehatan dan perkembangan fisiknya. Karena Menurut Data Outlook Perokok Pelajar Indonesia 2022 yang dikeluarkan oleh Indonesia Institute Social Development (IISD), salah satu motif pelajar merokok terbesar adalah karena terintimidasi lingkungan. Sebanyak 32,35% pelajar pernah merokok di sekolah dan 75% diantaranya pernah merokok di rumah. Bahkan sebagian besar pelajar membeli rokok di minimarket dan kios(warung). Yang penting diperhatikan, sebagian pelajar mengaku membeli rokok di kantin sekolah
Melihat penjelasan tersebut dapat diartikan bahwa peran seorang ayah juga tak kalah pentingnya dengan sang ibu dalam perkembangan anak, perilaku, atau perbuatan yang dilakukannya. Termasuk dalam mencegah mereka dari aktivitas merokok sejak dini. Misalnya saja dalam hal menjauhkan mereka dari aktivitas merokok sejak dini, seorang ayah wajib ikut menjaga interaksi dengan anaknya, seperti mengajaknya berbicara dan memberikan pemahaman soal risiko merokok sejak dini. Termasuk sang ayah, jika dia merokok maka lakukanlan aktivitas tersebut diluar rumah yang tidak dapat dilihat dan ditiru oleh anak.
Oleh karena itu, tim Cegah Perokok Anak coba merangkum bahwa hal tersebut bisa terjadi karena anak-anak kurang dapat kasih sayang dari bimbingan seorang ayah yang seharusnya hadir dan mengajarkan mereka hal-hal tentang kedisiplinan, tanggung jawab, dan juga kemandirian. Mengacu pada Positive Discipline in Everyday Parenting (PDEP), seorang ayah memiliki beberapa peran utama dalam kesehatan anak diantaranya, salah satunya tentang menentukan tujuan jangka panjang bagi anak, membangun kelekatan, memberikan bimbingan, dan mengatasi berbagai masalah kesehatan anak.
Sehingga untuk ikut berperan membantu sang ayah menerapkan tindakan preventif bagi anak mereka dalam hal merokok sejak dini, tim Cegah Perokok Anak membagikan sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk membangun pemahaman dan perilaku yang kuat dari sang anak terhadap intimidasi kegiatan merokok dari lingkungannya.
- Jika orang tua merokok, anak-anak berpotensi mengikutinya, maka berhentilah merokok di depan anak-anak. Menjadi contoh yang baik juga berarti juga harus hidup sehat dengan makanan yang sehat dan olahraga rutin.
- Ajarkan anak bahwa merokok tidak membuat mereka lebih keren atau lebih dewasa. Sebaliknya, merokok dapat menyebabkan banyak masalah kesehatan. Dengan memberikan informasi yang akurat, anak akan lebih mungkin untuk menghindari kebiasaan buruk ini.
- Berikan pemahaman kepadanya bahwa mereka memiliki pilihan dan kontrol atas tubuh mereka sendiri. Perkuat kemampuan mereka untuk menolak ajakan untuk merokok dan untuk mengambil keputusan yang lebih sehat.
- Cobalah untuk tidak melarang mereka merokok dan tidak menghukum mereka ketika orang tua menangkapnya, tetapi lebih baik mencoba membuat daftar tentang kontra rokok. Biarkan mereka menemukan fakta yang akan membuktikan bahwa merokok sama sekali tidak baik, tidak sehat, dan sangat tidak perlu dalam usianya.
