
Orang tua di zaman serba digital harus beradaptasi lebih banyak lagi. Terutama yang punya anak remaja, harus mulai menyadari, penerimaan mereka tentang konten-konten di sosial media berbeda dengan Anda. Mungkin, Anda tidak terpengaruh dengan banyaknya konten di platform daring tersebut. Namun, apakah anak Anda juga demikian? Survei Statista tahun 2021 menyebutkan setidaknya 3,6 miliar orang di dunia menggunakan media sosial, tidak terkecuali anak-anak. Penggunaan media sosial oleh anak usia dini bahkan dapat dimulai sejak anak berumur 3 tahun. Di Indonesia sendiri, sekitar 6,8% perempuan dan 5,7% laki-laki di rentang usia 13-17 tahun mulai aktif menggunakan media sosial.
Sebagai media eksplorasi dan berbagi, media sosial menawarkan beberapa manfaat seperti bertambahnya teman, berkembangnya lingkaran pergaulan, dan akses terhadap berita-berita terkini termasuk berita mengenai rilis film serta lagu dari band favorit mereka. Dalam hal ini, Instagram, YouTube ataupun TikTok sudah jadi platform yang paling digandrungi oleh anak-anak. Ini karena informasi dalam bentuk visual dinilai lebih entertaining daripada konten informasi yang dikemas tanpa visual.
Kendati demikian, penggunaan media sosial di usia yang dini, apalagi ketika anak dalam fase pertumbuhan dan pengenalan diri, juga dapat memberikan dampak yang buruk terhadap tumbuh kembang anak. Konten-konten dengan gambar-gambar visual ternyata mampu mempengaruhi tingkat percaya diri anak.
Sebut saja, ketika ada konten foto-foto pemengaruh (influencer) yang seringkali menampilkan sosok “ideal” dalam standar kecantikan masyarakat. Misalnya, kulit putih, rambut panjang, tubuh ideal, dan kehidupan yang mentereng. Belum lagi konten dengan pemengaruh yang kerap menunjukkan perilaku kurang baik di kalangan publik, misalnya berkata kasar, merokok, berkendara sambil selfie. Wah, kalau anak kurang bijak mencernanya, justru berpotensi menimbulkan hal-hal negatif saja yang melekat di benak mereka. Konten-konten seperti ini berpotensi besar dalam memicu rasa insecure pada diri anak, yang ujung-ujungnya memicu depresi dan bibit penyakit kesehatan mental sejak dini.
Masih dari survei Deutsche Welle, platform Instagram terbukti menjadi platform media sosial yang paling berpengaruh negatif terhadap kesehatan mental anak. Parahnya, berdasarkan studi yang dilaksanakan oleh Universitas Alabama di Birmingham, kesehatan mental anak yang terganggu juga akan memicu anak untuk mencari pelampiasan, salah satunya mulai mencoba rokok.
Sebagai orang tua, tentu kita tidak menginginkan anak mencoba merokok, bukan?
Lantas, bagaimana peran orang tua agar mencintai dirinya sendiri di tengah derasnya pengaruh media sosial?
Cerna konten sosial media dengan santai
Public figure seringkali memoles foto mereka agar terlihat lebih menarik sebelum mereka mengunggahnya ke internet. Sebagai orang tua, berikan pengertian pada anak bahwa terkadang, apa yang kita lihat di media sosial belum tentu merepresentasikan keadaan yang sesungguhnya, tentunya tanpa mengajarkan mereka untuk menjadi individu yang judgemental. angkah ini bisa dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang membuat mereka think outside the (cropped) box, seperti “Kenapa ya mereka mengedit foto mereka?” atau “Bagaimana ya rasanya mendapatkan banyak likes dan pengikut?” dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang mampu membuat mereka mengerti bagaimana media sosial bekerja. Terakhir, ajak mereka menikmati konten dengan santai, tanpa kewajiban untuk mengikuti gaya hidup si pemengaruh.
Rokok bukan solusi krisis percaya diri
Jika Anda mendapati anak sudah mencoba rokok, ajaklah anak untuk berbincang ringan, dan selami apa yang mereka rasakan. Ajak anak untuk menggali potensi diri dan memperbanyak prestasi. Dari sini, Anda bisa menyematkan pesan-pesan kepada anak, bahwa tekanan pergaulan tidak bisa diselesaikan dengan perilaku merokok. Namun, jika Anda kesulitan meminta anak membuka diri, pertimbangkan untuk meminta saran guru di sekolahnya.. Karena seringkali anak remaja lebih suka mendengarkan nasihat orang lain, dibanding keluarganya. Tidak ada salahnya dicoba.
Afirmasi positif ampuh hindari penyakit hati
Kalimat positif, sesederhana apapun bentuknya, terbukti mampu mempengaruhi pola pikir anak untuk menjadi lebih percaya diri. Oleh karena itu, bukanlah hal yang berlebihan bagi kita sebagai orang tua untuk terus memberikan anak kalimat-kalimat positif seperti “Kamu cantik sekali hari ini!” atau “Celana yang kamu pakai terlihat sangat cocok kamu pakai”, dan lain sebagainya. Kalimat ini merupakan sarana bagi orang tua untuk memastikan bahwa anak merasa “cukup”.
Ajak anak kenali dan kelola emosi
Penting bagi orang tua untuk mengajarkan anak bahwa merasa sedih atau marah adalah emosi yang normal. Seperti yang telah dibahas dalam artikel yang berjudul Ajarkan Self Love Sejak Dini, Jurus Jitu Orang Tua Kembangkan Remaja Mandiri, sebagai orang tua tentu kita tidak ingin membiarkan mereka tenggelam dalam rasa bersalah atau emosi yang berlarut-larut. Ajarkan mereka untuk berani menerima dan merasakan emosi tersebut, lalu dampingi mereka untuk belajar mengendalikan emosinya.
Terakhir, berikan apresiasi pada anak.
Ketika anak berhasil melakukan sesuatu dengan baik, mulai dari sesederhana membersihkan makanannya sendiri sampai mendapatkan nilai yang baik di sekolah, jangan lupa untuk memberikan apresiasi bagi anak. Tunjukkan bahwa mereka hebat dalam melakukan hal-hal tersebut dan kemudian buka ruang pada anak untuk terus mengeksplorasi hal-hal yang mereka sukai.
Meskipun orang tua dan anak lahir dan dibesarkan di generasi yang berbeda, bukanlah hal yang salah apabila orang tua berusaha mencoba mengerti anak dan apa yang mereka alami, baik di kehidupan mereka ataupun di media sosial. Penting bagi kita untuk memastikan bahwa anak merasa aman. Memastikan bahwa mereka dicintai apa adanya – tanpa filter dan tanpa editan akan membantu mereka merasa percaya diri dengan menerima dirinya sendiri ketika mereka tidak lagi hidup bersama orang tua. Semua berperan untuk memastikan anak merasa aman dan nyaman, baik secara fisik dan psikis, agar terhindar dari dampak negatif paparan sosial media yang berlebihan.
Referensi:
Indonesia Breakdown Social Media Age Users Age Gender
The Social Media with the Most Negative Effect on Mental Health
Its Complicated: the Relationship between Depression and Smoking
Sumber Foto:
Dnet Provider
