
Orang tua kerap mengutamakan anak untuk belajar keterampilan akademik sejak dini, namun ada hal penting yang sebetulnya juga perlu diajarkan kepada anak, yakni seni mencintai diri sendiri (self-love). Terlebih di era serba digital dimana anak sangat mudah terpengaruh oleh konten-konten digital yang tentu sulit diawasi oleh orang tua.
Pengaruh lingkungan eksternal pada anak remaja semakin tinggi dan berpotensi membawa anak pada kebiasaan-kebiasaan baru yang bisa jadi merugikan. Karena itu, membangun rasa cinta pada diri sendiri harus ditanamkan. Karena,ketika rasa sayang itu tumbuh dalam diri anak, maka semangat untuk merawat dan menjaga diri pun akan tinggi.
Sebenarnya, apa itu menyayangi diri sendiri? Ketika anak menyayangi dirinya sendiri, maka ia akan tumbuh lebih percaya diri, bangga pada apa yang bisa ia kerjakan, mampu belajar dari kesalahannya, dan tidak mudah terpengaruh lingkungan negatif. Sebaliknya, jika mereka punya rasa sayang rendah, mereka akan cenderung memupuk rasa benci, yang berakhir kepada penolakan terhadap dirinya sendiri. Sehingga ketika ia benci dan menolak, anak akan rentan melakukan sesuatu yang berpotensi merusak dirinya sendiri, dan juga orang lain.
Kemudian, apa akibatnya jika orang tua tidak mengajarkan anak untuk menghargai dirinya sendiri sejak dini? Ternyata, minimnya rasa sayang dan peduli terhadap diri sendiri menyebabkan anak rentan terhadap berbagai kenakalan dan penyalahgunaan, seperti terlibat dengan lingkungan yang buruk, melakukan aktivitas yang negatif dan lainnya. Salah satu contoh sederhana adalah ketika anak mulai tergoda untuk merokok.
Lantas, bagaimana Anda mengajarkan self-love kepada Anak anda?
Pertama, ajarkan Anak untuk berani mengakui kesalahan, dan memaafkan dirinya sendiri. Ketika anak melakukan kesalahan, jangan biarkan anak terus merasa bersalah. Sebaliknya, biasakan mereka untuk belajar dari kesalahan dan ajak mereka mengevaluasi langkahnya ke arah yang lebih maju (constructive evaluation).
Kedua, bantu anak kembangkan hobi atau minat yang dimiliki. Setiap anak pasti memiliki bakat dan potensinya masing-masing, semakin diasah, maka anak akan semakin mahir. Misalnya, ketika anak menyukai sepak bola, alat musik sampai science, pastikan Anda mendukung mereka untuk mengasah kemampuannya. Bahkan, kalau memungkinkan, daftarkan pada kursus dan kompetisi khusus. Anak akan lebih mencintai dirinya sendiri jika ia diberi kesempatan untuk mengembangkan kelebihan dan kemampuan yang dia miliki. Anak juga akan merasa dirinya berharga karena memiliki sesuatu yang bisa ia buktikan dan tunjukkan.
Ketiga, hindari menyebut anak dengan panggilan kasar. Beranjak remaja, anak mungkin terlihat acuh namun ia menyerap apa yang dikatakan orang tuanya. Sebagai contoh, jika orang tua sering menyebutnya pemalas, bodoh, atau nakal, ia akan memercayai hal-hal tersebut dan terdorong untuk berbuat semaunya. Oleh karena itu, gunakanlah kata-kata positif pada anak.
Jangan biarkan dirinya tenggelam dalam kelemahannya dan tidak percaya diri. Ketika muncul kata-kata seperti “aku paling bodoh di kelas,” atau “aku jelek dibandingkan temanku”, orang tua dapat mengajarkan mereka untuk mengubah kalimat negatif menjadi positif. Jelaskan kepadanya bahwa setiap anak diciptakan untuk memiliki karakter masing-masing yang membedakan ia dengan teman-temannya, dan semua hal itu patut dihargai.
Anak yang percaya diri dan mencintai dirinya sendiri akan lebih mandiri dalam mengambil keputusan baik dalam hidupnya. Selain itu, mereka juga bisa tumbuk menjadi karakter yang bermental kuat dan punya empati tinggi. Jadi, yuk, mulai ajari anak mencintai diri sendiri. Beragam cara yang telah disebutkan di atas sebenarnya tidak rumit, namun perlu komitmen tinggi.
#SemuaBerperan
Referensi:
AloDokter, “Banyak Manfaat, Ini Cara Mengajari Anak Mencintai Diri Sendiri.”
Sahabat Nestle, “Ajarkan Anak untuk Menyayangi Dirinya.”
Sumber Foto:
Freepik.
