
Berbicara soal merokok memang sering kali harus dikaitkan dengan toxic masculinity. Mengapa demikian? Jawabannya mudah, karena masyarakat masih menganggap bahwa laki-laki akan terlihat lebih jantan, lebih kuat dan lebih berwibawa ketika merokok. Namun bila kita hubungkan dengan upaya untuk terus menekan prevalensi perokok anak, justru hal ini bisa menjadi tantangan besar.
Faktanya, pembatasan akses rokok terhadap anak yang masif saat ini terbukti cukup ampuh untuk menurunkan jumlah perokok anak. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat persentase merokok penduduk usia </= 18 tahun turun 0,12 poin persentase ke level 3,69% pada 2021 dibanding tahun sebelumnya. Penurunan ini merupakan yang ke-3 kalinya dalam 3 tahun secara beruntun. Oleh karena itu, menjadi penting untuk menekankan pemahaman orang dewasa dalam menjaga akses rokok terhadap anak-anak.
Apa itu Toxic Masculinity?
Mari kita lihat dulu definisi dari toxic masculinity. Toxic masculinity adalah tekanan dari lingkungan sosial kepada kaum lelaki untuk bersikap dan bertindak sesuai dengan cara tertentu. Merokok adalah salah satu jenisnya.
Sayangnya, pencitraan terhadap rokok ini masih laris di berbagai kalangan masyarakat sehingga terjadilah normalisasi rokok. Parahnya, ini juga melibatkan anak-anak karena anak-anak tentu saja akan mencontoh orang dewasa yang mereka lihat.
Intergenerational Toxic Masculinity
Tidak jarang kita menemukan rokok tersaji bersandingan dengan makanan di acara perkumpulan keluarga maupun hajatan masyarakat. Inilah yang kita sebut normalisasi rokok. Seolah-olah rokok adalah barang yang normal dan wajib ada dalam setiap kegiatan berkeluarga dan bermasyarakat.
Kondisi masyarakat yang “menormalkan” rokok ini berkaitan erat dengan intergenerational toxic masculinity. Artinya, toxic masculinity ini diturunkan secara turun temurun dalam masyarakat kita.
Toxic masculinity yang ditransmisikan intergenerasional melalui aktivitas sosial, budaya, dan kehidupan sehari-hari, tidak hanya berdampak pada orang-orang yang sudah dewasa. Pasalnya, aktivitas-aktivitas ini juga melibatkan anak-anak. Jadi, anak-anak pun kemudian akan mencontoh dan berpikir bahwa bahaya rokok tidak sebanding dengan pencapaian sosial sebagai seorang “lelaki maskulin”.
Tips Menghindarkan Anak dari Toxic Masculinity
Berikut ini ada beberapa tips yang bisa membuat anak Anda terhindar dari toxic masculinity dan budaya merokok sejak dini.
1. Ingatkan Sejak Dini
Namun, Anda harus memastikan bahwa Anda tetap berdiskusi dengan hangat dan sehat. Dalam artian, berikan ruang kepada anak-anak untuk menyampaikan pendapatnya. Usahakan untuk bersikap terbuka dalam melihat isu ini. Cobalah untuk menempatkan diri Anda pada sudut pandang anak. Meskipun Anda juga tetap harus memberikan edukasi yang baik terkait dengan bahaya rokok.
Diskusi seperti ini dapat Anda lakukan secara konsisten. Terlebih lagi, anak-anak memang terus tumbuh dan berkembang. Persepsi dan pandangan mereka terhadap dunia tentu saja akan berubah. Jadi, Anda harus menjaga diskusi ini tetap berlangsung seiring dengan bertambahnya usia.
Pertama-tama, Anda bisa mengingatkan anak-anak dari sejak dini tentang bahaya rokok. Mulailah berbicara dengan anak-anak Anda tentang merokok di usianya. Tanyakan apa pendapat mereka tentang rokok.
Selain itu, jika Anda merokok, hal terbaik yang dapat Anda lakukan adalah jangan merokok di sekitar anak-anak Anda. Sebisa mungkin, jangan biarkan anggota keluarga atau teman merokok di rumah atau mobil Anda. Dengan demikian, Anda sudah membatasi visualisasi merokok dan membantu anak Anda berhenti menjadi perokok pasif. Oleh karena itu, selalu pastikan bahwa semua tempat yang sering dipakai oleh anak telah bebas dari rokok.
2. Kenali Teman-teman Anak Anda
Banyak anak-anak mencoba merokok karena dampak pergaulan dengan teman sebayanya. Terjebak di pergaulan yang salah akan membuat anak-anak Anda rentan merokok. Pasalnya, hal ini menjadikan mereka berpikir bahwa merokok merupakan hal yang wajar dan lumrah. Lebih daripada itu, mereka bahkan bisa berpikir bahwa merokok adalah bagian penting dalam bersosialisasi dengan teman-temannya.
Dengan kondisi yang seperti ini, penting sekali untuk selalu bersikap terbuka dan mendapatkan kepercayaan dari anak. Caranya tentu saja dengan terus mengakrabkan diri dan membuka ruang-ruang diskusi sehat bersama anak-anak Anda. Hanya dengan cara inilah, anak akan menjadi terbuka dan mau bercerita tentang kegiatan yang ia lakukan bersama teman-temannya.
Jika memungkinkan, Anda juga bisa membangun keakraban dengan teman dekat anak-anak Anda. Misalnya saja, Anda bisa mengundang teman-teman anak ke rumah dan membiarkan mereka bermain serta belajar bersama dalam situasi yang aman dan nyaman. Dengan demikian, Anda juga bisa berkenalan dengan mereka. Anda pun bisa menjalin kedekatan sehingga bisa melihat kepribadian sahabat anak Anda.
Dari sini, Anda dapat memantau apakah teman-teman anak Anda termasuk jenis teman yang akan mengajak anak merokok atau tidak. Tentu saja, Anda tidak bisa langsung membatasi pergaulan anak atau mencegahnya berteman dengan mereka. Namun, Anda bisa memberi nasihat secara berkala atau mengawasi mereka lebih dekat agar dapat bergaul dengan sehat dan bebas rokok.
3. Ajari Anak untuk Berkata Tidak
Langkah terakhir bisa Anda lakukan ketika Anda tidak bisa membatasi pergaulan anak Anda. Anda bisa mengatasi permasalahan ini dengan mengajari anak untuk berkata tidak kepada ajaran merokok. Terkadang, anak tidak mengerti caranya menolak ajakan ini. Jadi, pastikan Anda bisa mengajarkan cara menolak yang tepat.
- Berikan pemahaman tentang bahaya rokok.
- Ajari cara menolak ajakan dengan berkata tidak.
- Anak juga bisa menambahkan penjelasan atas penolakannya jika sudah memahami bahaya rokok dengan baik.
Yakinkanlah anak Anda bahwa menolak rokok tidak akan membuatnya kehilangan teman. Terlebih lagi, teman yang baik tentu saja tidak akan memaksakan pendapatnya sendiri kepada anak Anda. Apalagi jika anak sudah memberikan penjelasan atas penolakannya. Seharusnya, teman yang baik mau mengerti.
Anak anda mungkin belum mengerti bahwa normalisasi rokok adalah bagian dari toxic masculinity. Namun, Anda bisa memberikan penjelasan dengan membuka ruang-ruang diskusi sehat dengan anak. Hindarilah memberikan larangan tanpa penjelasan. Namun, berpikirlah terbuka dan raih kepercayaan dari anak-anak Anda. Selain itu, perlu juga menciptakan lingkungan anak yang suportif. Misalkan dengan lingkungan pertemanan anak yang mendukung perkembangan anak ke arah positif, hingga peran seorang pendidik di lingkungan sekolah yang selalu membuat ruang berpikir anak terbuka. Karena pada dasarnya, kampanye ini didasari pada kepercayaan bahwa pencegahan perokok anak merupakan tanggung jawab dari seluruh elemen masyarakat.
